Tarlahirlah seorang anak manusia dari pasangan renta pada tanggal 22 Maret 1964 di pedukuhan terpencil antara wilayah Jawa Barat dan Jawa tengah, seorang anak laki-laki yang terlahir sehat diberi nama Isun.
Isun dengan cepatnya tumbuh besar meski dengan kehidupan seadanya, Ma'nya mengais rezeki di pasar dengan menjadi seorang tukang jahit baju perempuan desa, Abahnya mantan cap gawe, sebutan untuk perangkat desa saat itu, dengan sepetak sawah yang digarap orang lain beliau menghidupi anak satu-satunya itu.Beberapa teman sebayanya yang berada di sekitar rumahnya senantiasa menemaninya bermain hingga isun bersekolah di SD Islam tahun 1971 yang berwilayah di Losari Sabrang Wetan, cukup dengan mengangkat celana pendek tinggi-tinggi untuk menyebrang sungai tapi jika musim hujan tiba harus dengan memutar jauh untuk pergi pulang sekolah karena sungai yang membelah dua wilayah itu banyak dan deras airnya, kadang bersepeda, kadang berjalan kaki jika kebetulan sepeda satu-satunya yang dicintai itu dipakai abah untuk suatu keperluan.
Setamat SD tahun 1976, isunpun melanjutkan sekolah ke SMP Negeri, di wilayah Losari Sabrang Kulon, senangnya dapat sekolah negeri, teman bertambah lagi dari beberapa wilayah, baik wilayah sendiri yaitu sabrang kulon maupun wilayah sabrang wetan, sepeda yang setia menemaniku kemana saja hilang diambil orang yang membutuhkannya, ketika itu abah menyimpannya di samping bangku tempat tidur-tiduran yang biasa abah pakai kalau tidur dipasar menemani ema menjahit, karena tidak pernah merasa curiga pada tiap orang yang lalu lalang di pasar maka hilanglah sepeda yang kucintai. Tiga tahun setengah berlalu bukan lagi tiga tahun pas, isun lulus SMP, waktu itu ada perpanjangan semester dari Januari ke Juli.
Tamatlah isun dari di SMP yaitu tahun 1980, isun melanjutkan ke SMA Negeri I yang berwilayah di Sabrang Wetan, hanya saja tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki lagi bahkan dengan sepedapun tidak mungkin dicapainya kalau harus tiap hari pulang balik dari rumah ke sekolah, dengan naik bus atau angkutan bermotor lainnya di tempuhnya jarak sekitar 30 km, teman bertambah lagi lebih banyak, aktifitas bertambah, pengeluaran abah emapun bertambah pula, untuk memperingan biaya, pada tahun ke dua isun ikut saudara menjadi pelayan di salah satu toko emas di Brebes hingga tamat SMA. di tahu 1982 sawah yang dimiliki Abah dan Ma' dibeli orang dan uang penjualan cukup untuk membeli dua tiket pesawat pergi ke Mekkah.
Ternyata lulus SMA tidak sebahagia lulus SD dan SMP, kegagalan isun masuk Perguruan Tinggi Negri membuat isun punya semangat baru untuk membahagiakan orang tua dengan cara lain selain dengan lulus PT. Pergilah isun ke Jakarta di salah satu saudara, tinggal disana dan di masukkan kerja di sebuah bengkel las, setengah hari kerja tidak kuat jadi pulang, tidak langsung pulang tapi menuju saudara yang lain beberapa hari kemudian isun diajak melamar pekerjaan dimana saudaraku bekerja disana, dan ternyata aku diterima bekerja di Cottage Poetri Duyung Ancol sejak13 Agustus 1984 hinga 20 Agustus 1984, dalam kurun itu sempat kuliah di UNTAG Jakarta namun karena panggilan kerja di Cirebon harus dipenuhi maka dikorbankanlah kuliahnya,Setiap pulang isun meminta doa abah ema agar diterima bekerja di wilayah sendiri, ditengah-tengan kesibukkan bekerja di Ancol menyebar lamaran kerja di daerah, tak disangka ada perusahaan besar yang sedang dibangun menerima tenaga kerja, beruntung isun jurusannya IPA jadi bisa diterima, 09 maret 1984 memasukkan lamaran, 14-16 Juni tes tertulis dan 26 juli tes kesehatan, 20 Agustus 1984 diterima dan langsung bekerja hingga sekarang.
14 juni 1987 isun berkenalan dengan seorang wanita, merasa cocok isun langsung bicara sama Ema, Januari tanggal 26 tahun 1988 gadis yang di kenal isun di nikahinya sampai sekarang hingga dianugerahi tiga orang anak.Di tahun 1992, Abah meninggalkan Isun dan orang-orang yang menyayanginya, pergi menghadap Illahi, begitu juga Ema tahun 1997 menyusul Abah pulang ke Kampung Abadi, dengan pasrah dan tawakkal Isun melepas kepergian keduanya. Isun selalu memohon kepada Allah agar kedua orangtuanya diampuni dasa-dosanya, dimaafkan segala kesalahannya dan diterima disisi Allah dengan tempat yang sangat lapang, begitulah Isun jika mengingat akan kedua orangtuanya selalu berdoa
ربنـا فغـــفرلـنا ذنــوبــنا ولـوالـدي وارحمهمـا كمـا ربــيانى صغـــيرا
Di tahun 2000 Isun mendapatkan kebahagiaan yang amat sangat, dengan melalui beberapa seleksi yang dipersyaratkan hingga 11 tahun menunggu akhirnya perusahaan dimana dia bekerja telah mempercayainya untuk memberangkatkannya pergi ke Tanah Suci dan berziarah ke maqam Rasulullah.
